[MEDIA LITERASI] Sorgum: Pangan Alternatif Pengganti Nasi

Nasi merupakan salah satu makanan pokok orang Indonesia. Masyarakat kita terbiasa mengonsumsi nasi setiap hari dengan berbagai hidangan yang membuat nasi seperti tidak bisa dipisahkan dari keseharian masyarakat. Namun disamping tingginya konsumsi nasi pada masyarakat, nyatanya Indonesia termasuk dalam salah satu negara pengimpor beras terbesar. Tercatat pada 2024, impor beras Indonesia naik hingga mencapai 3,85 juta ton dari yang sebelumnya hanya 3,06 ton di tahun 2023. Hal ini menandakan bahwa produksi beras di Indonesia masih belum mencukupi kebutuhan pangan masyarakat, bahkan malah mengalami penurunan produksi.
Banyak faktor yang mempengaruhi kurangnya produksi beras di Indonesia. Salah satu faktor tersebut adalah karena perubahan cuaca dan iklim yang menyebabkan kekeringan. Mengutip dari Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP), penurunan produksi beras pada 2023 merupakan dampak dari kemarau panjang yang disebabkan El Nino. Padi memanglah tanaman yang memerlukan banyak air untuk tumbuh, sehingga saat kondisi tanah kering dan kekurangan air, padi tidak dapat tumbuh dengan baik yang menyebabkan produksi beras menurun.
Selain padi, sebenarnya banyak tanaman serupa yang bisa tumbuh dengan baik di Indonesia bahkan tanpa memerlukan air sebanyak yang dibutuhkan tanaman padi. Salah satu contohnya adalah sorgum. Sorgum merupakan tanaman sejenis biji-bijian atau serealia yang berasal dari Afrika Timur. Sekilas tanaman sorgum mirip seperti tanaman jagung yang memiliki batang tunggal dengan daun panjang dan akar serabut. Yang membedakan kedua tanaman ini adalah pada bagian buahnya. Jagung memiliki buah yang tumbuh di antara ruas batang dengan bentuk berupa bonggol, sedangkan sorgum memiliki buah di bagian ujung batang yang terlihat seperti biji gandum yang bergerombol.
Tanaman sorgum dapat tumbuh di tanah yang memiliki kandungan air sedikit bahkan kering. Tanaman ini memiliki kemampuan adaptasi yang baik sehingga mudah dikembangkan. Di Australia sendiri terdapat varietas sorgum liar yang dikonfirmasi lebih tahan pada kondisi kering namun tidak menunjukkan adanya peningkatan dhurrin. Hal tersebut menandakan bahwa di masa menadatang sangat mungkin jika gen dari varietas sorgum liar tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan tanaman sorgum yang lebih tahan kekeringan serta menghasilkan sianida rendah (Murtini, 2021). Masa panen sorgum juga termasuk singkat, sama seperti padi yaitu sekitar 3-4 bulan.
Selain kemudahan pengembangan tanaman sorgum, kandungan gizi pada sorgum juga tidak kalah dibandingkan nasi. Sorgum memiliki kandungan karbohidrat, protein, mineral, kalsium, kalium dan serat yang tingggi. Hal inilah yang membuat sorgum lebih mengenyangkan daripada nasi. Semua kandungan tersebut bisa kita dapatkan hanya dalam satu bahan makanan, yaitu sorgum.
Dengan semua kandungan yang bermanfaat, sorgum juga dapat diolah menjadi berbagai macam makanan yang bervariasi mulai dari olahan tepung, makanan berat hingga makanan ringan. Tidak seperti nasi, rasa sorgum cenderung hambar atau tidak memiliki rasa. Setelah dikukus, tekstur sorgum lebih mirip seperti kacang hijau yang kasar, jauh berbeda dengan nasi yang lebih lengket dan menyatu.
Sayangnya dengan kemudahan pengelolaan tanaman sorgum dan semua manfaat yang dikandunganya, sorgum masih terbilang sulit ditemukan di pasaran. Mungkin perlu adaptasi yang tidak mudah bagi masyarakat jika ingin beralih ke sorgum. Namun jika dikelola dengan baik dan dengan pengolahan yang benar, sorgum dapat menjadi pangan alternatif ditengah sulitnya produksi padi yang kian menurun. Bahkan sangat mungkin sorgum dapat memperkuat ketahanan pangan di Indonesia nantinya. Jadi, siapkah kita berlih ke sorgum?


![[MEDIA LITERASI] KULAMBU: PEMAKAMAN SUKU DAYAK TAMAN YANG TAK BIASA](https://static.wixstatic.com/media/1f94b9_8a92d36da162485bb3632f6fb98ac7c0~mv2.png/v1/fill/w_807,h_422,al_c,q_85,enc_avif,quality_auto/1f94b9_8a92d36da162485bb3632f6fb98ac7c0~mv2.png)
Comments