[MEDIA LITERASI] Apakah Perkebunan Sawit Bisa Menggantikan Hutan?

Indonesia merupakan negara dengan hutan tropis yang sangat besar. Hutan tropis yang ada di Indonesia tersebar dari sabang hingga merauke baik di pulau-pulau besar maupun kecil. Namun, hampir setiap tahun wilayah hutan di Inonesia selalu berkurang akibat berbagai faktor. Mulai dari kebakaran hutan, penebangan liar, pembukaan dan perluasa lahan untuk pertanian, hingga alih fungsi lahan untuk perkebunan.
Perkebunan sawit merupakan salah satu penyebab berkurangnya luas hutan yang ada di Indonesia. Menurut Badan Informasi Geospasial (BIG) pada tahun 2023, perkebunan sawit di Indonesia telah mencapai sekitar 17 juta hektare lahan. Lebih dari separuh lahan yang digunakan untuk perkebunan sawit sebelumnya adalah hutan. Bukan tidak mungkin angka tersebut akan terus naik setiap tahunnya. Lantas apakah alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit akan berdampak buruk terhadap ekosistem yang ada di hutan? Apakah hutan yang berisi pepohonan bisa digantikan dengan sawit yang sama-sama pohon? Tentunya tidak sesederhana itu.
Hutan merupakan kawasan yang terdiri dari berbagai macam tanaman, pepohonan, hewan dan tumbuhan dengan karakteristik yang berbeda-beda. Berbagai macam makhluk hidup yang ada di hutan memiliki peran masing-masing sehingga membentuk suatu ekosistem tersendiri. Jika salah satu komponen hutan tidak terpenuhi, hal tersebut dapat merusak ekosistem hutan yang sudah ada. Mengubah hutan menjadi perkebunana sawit artinya menghilangkan berbagai macam tanaman dan pepohonan lalu menggantikannya dengan satu jenis tanaman saja yaitu pohon sawit. Hal tersebut membuat fungsi hutan tidak akan sama lagi.
Perkebuan sawit tidak bisa menyediakan sumber daya yang sama dengan hutan. Ekosistem yang ada dalam perkebunan sawit sangatlah sederhana jika dibandingkan dengan hutan yang kompleks. Ditambah lagi dalam perawatannya, perkebunan sawit memerlukan pestisida dan pupuk yang mengandung berbagai bahan kimia dan sanagat mungkin dapat mencemari lingkungan.
Satwa liar seperti gajah dan harimau merupakan sebagian kecil hewan yang akan terdampak jika hutan dialihfungsikan menjadi perkebunan sawit. Mengutip dari pernyataan Prof. Budi Setiadi Daryono, selaku ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI), bahwa banyak riset menyatakan di kawasan perkebunan sawit tidak mampu menjadi habitat satwa liar dan hampir 0% keragaman hayati yang bisa berkembang di perkebunan sawit. Artinya hampir mustahil menjadikan perkebunan sawit sebagai habitat satwa liar. Hal tersebut akan sangat merugikan flora dan fauan yang sebelumnya tinggal disana dan bukan tidak mungkin flora dan fauna langka ikut terdampak akan berakhir dengan kepunahan karena habitat yang kian menyempit.
Dapat disimpulkan bahwa perkebunan sawit tidak bisa menggantikan hutan. Meskipun sawit merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar di Indonesia, tapi harga itu tidak sebanding dengan dampak yang ditimbulkan. Keragaman hayati dan ekosistem hutan yang komples sudah seharusnya kita jaga supaya tidak punah sehingga tetap bisa dinikmati oleh anak cucu kita kelak.

![[MEDIA LITERASI] Hutan Kerangas, Ekosistem di Atas Lahan Kritis](https://static.wixstatic.com/media/1f94b9_c8d54ddbf03f42a89a0321e29baa6291~mv2.png/v1/fill/w_375,h_254,al_c,q_85,enc_avif,quality_auto/1f94b9_c8d54ddbf03f42a89a0321e29baa6291~mv2.png)

Comments