[INFO TERKINI] Eksplorasi Dinamika Geosfer Secara Nyata Melalui Studi Fenomena Geosfer (SFG)
Updated: Jun 28, 2025
Geografi merupakan ilmu yang mempelajari mengenai bumi dan segala fenomena yang ada di atasnya termasuk mempelajari interaksi antara manusia dan lingkungan. Oleh karena itu, dalam mengkaji ilmu geografi tidak cukup dengan hanya melaksanakan pembelajaran di ruang kelas, mahasiswa perlu pemahaman secara nyata serta pengimplementasikan ilmu yang diperoleh melalui observasi di lapangan. Wadah mahasiswa geografi UNNES untuk pembelajaran terutama mengenai fenomena alam yaitu melalui Studi Fenomena Geosfer (SFG) atau yang secara umum dikenal sebagai kegiatan Praktek Kuliah Lapangan (PKL).

Studi Fenomena Geosfer (SFG) merupakan salah satu mata kuliah jurusan geografi yang dilaksanakan pada semester 2 dan 4. SFG dirancang untuk menjembatani teori dan praktik, sehingga membentuk mahasiswa geografi yang menguasai medan, kritis, dan siap berkontribusi terhadap lingkungan dengan mengkombinasikan kegiatan berbasis dalam ruangan (indoor) dan luar ruangan (outdoor study).
SFG 1 dilaksanakan pada semester 2 dan SFG 2 dilaksanakan pada semester 4 serta didampingi langsung oleh dosen pengampu setiap rombelnya. SFG 1 dan SFG 2 memiliki fokus kajian yang sama yaitu mengkaji fenomena geosfer. Fenomena geosfer adalah segala gejala, peristiwa, atau kejadian alam yang terjadi di permukaan Bumi dan melibatkan interaksi antar unsur-unsur geosfer.
Terdapat perbedaan antara SFG 1 dan SFG 2. Pada SFG 1 penelitian mengenai interaksi manusia dengan alam dan pengenalan umum beberapa bentuk lahan (landform) yaitu bentuk lahan asal vulkanik, struktural, fluvial, solusional, denudasional, aeolin, marine, dan antropogenik. Sementara itu, pada SFG 2 penelitian mengkaji lebih pesifik mengenai dinamika fenomena geosfer dengan sampel permasalahan khas pada wilayah penelitian yang ditentukan.
Terdapat perbedaan antara SFG 1 dan SFG 2. Pada SFG 1 penelitian mengenai interaksi manusia dengan alam dan pengenalan umum beberapa bentuk lahan (landform) yaitu bentuk lahan asal vulkanik, struktural, fluvial, solusional, denudasional, aeolin, marine, dan antropogenik. Sementara itu, pada SFG 2 penelitian mengkaji lebih pesifik mengenai dinamika fenomena geosfer dengan sampel permasalahan khas pada wilayah penelitian yang ditentukan.
Kegiatan SFG 1 dibagi menjadi dua kloter, dengan tujuan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kloter pertama (PG 1, PG 2, GEMI, dan Rombel 3) dilaksakan pada 22 - 24 April, diikuti oleh kloter kedua (Rombel 1, Rombel 2, dan Rombel 4) pada 29 April - 1 Mei.

Lokasi pengamatan pada SFG 1 meliputi Museum Gunung Merapi (MGM), Lava Bantal, dan Tebing Breksi pada hari pertama. Dilanjut dengan objek pengamatan Tempuran Kali Opak dan Kali Oyo, Parangtritis GeoMarine Science Park (PGSP), Pantai Depok, Gumuk Pasir Parangkusumo, Pantai Parangkusumo, dan Pantai Parangtritis di hari kedua. Selanjutnya, pada hari ketiga objek pengamatannya meliputi Goa Ngingrong, Telaga Namberan, dan Pantai Baron sebagai objek pengamatan yang terakhir.

Setiap rombel dibagi menjadi beberapa kelompok yang akan meneliti dua aspek utama yaitu fisik dan sosial. Aspek fisik yang diteliti meliputi letak geografis, pengukuran geomorfologi, geologi, meteorologi klimatologi, hidrologi, dan pengetahuan penduduk lokal tentang mitigasi bencana lokal. Adapun pada aspek sosial, meliputi kondisi sosial ekonomi masyarakat lokal, keadaan wisata, penggunaan lahan, upaya konservasi, dan tantangan pariwisata. Penelitian aspek sosial ini diperlukan setidaknya tiga narasumber yang relevan yang dibutuhkan, seperti pedagang, nelayan, adaupun penduduk lokal sekitar lokasi penelitian.
Kegiatan SFG 2 dibagi menjadi dua lokasi penelitian, yaitu Pulau Karimunjawa dan Sub DAS Bompon. Kelompok Karimunjawa terbagi menjadi dua kloter yaitu kloter pertama (Rombel 1, Rombel 3, dan Rombel Internasional) dilaksanakan pada 23 – 25 April, diikuti kloter kedua (PG A dan PG B) pada 7 - 9 Mei. Sementara itu, kelompok DAS Bompon yaitu Rombel 2 dan Rombel 4, dilaksanakan pada 2 – 5 Mei. Lokasi penelitian Karimunjawa meliputi Pantai Tanjung Gelam, Balai Taman Nasional Karimunjawa (BTNKJ), Annora, Bukit Love, dan Pantai Bobby. Pada lokasi tersebut, penelitian terfokus pada kondisi sosial masyarakat terutama potensi sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi dan pembentuk dinamika sosial.
Pada kelompok DAS Bompon penelitian terfokus pada eksplorasi Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) secara menyeluruh mulai daerah hulu, tengah, hingga hilir DAS. Sub DAS Bompon terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah merupakan bagian dari Sub DAS Kodil pada sistem hidrologi Sungai Bogowonto. Daerah ini menjadi sorotan bagi para peneliti karena eksistensi nilai geografi yang khas salah satunya mengenai fenomena bencana alam seperti tanah longsor dan kekeringan. Selama masa penelitian, mahasiswa dibimbing oleh tim asisten Laboratorium Transbulent yang telah berpengalaman terhadap dinamika lokal sehingga penelitian menjadi lebih efektif.

Pelaksanaan SFG ini memberikan kesan tersediri bagi pesertanya karena memberikan banyak pengalaman penuh makna, salah satunya menurut peserta SFG 2 Karimunjawa yaitu Siti Fazriah yang menceritakan pengalaman barunya “disana tuh ada satu tradisi yang menarik bagi aku, namanya sedekah laut yang menjadi tradisi tahunan warga nelayan di Karimunjawa buat ngucapin syukur ke Tuhan atas hasil laut dan minta keselamatan saat melaut. Biasanya diadakan sekitar bulan Suro (kalender Jawa). Acaranya berupa larung sesaji ke laut, yang dibawa pakai perahu dan dilepas di tengah laut. Itu simbol persembahan ke alam supaya laut tetap bersahabat dan rezeki lancar. Selain itu, ada juga doa bersama, kirab budaya, dan hiburan rakyat kayak pentas seni dan pasar malam. Tradisi ini bukan cuma soal adat, tapi juga jadi ajang kumpul warga dan hiburan buat wisatawan yang datang”.
Adapun pesan dan kesan salah satu ketua SFG 1 yaitu Arkan Maulana Arsy “kegiatan SFG 1 ini sangat seru dan menarik sekali karena kita sebagai mahasiswa geografi diajak secara langsung dalam mengamati objek-objek yang biasanya hanya bisa kita lihat di dalam materi perkuliahan/praktikum. Untuk pesannya semoga di SFG 2 nanti bisa lebih seru dan objek yang diamati dapat lebih menarik”.
Tak kalah berkesan, pesan hangat dari Titien D L Simamora, salah satu Koordinator SFG 2, yang mendorong mahasiswa untuk menjadi geograf yang peka terhadap alam dan Masyarakat “Kesempatan luar biasa bagi saya, bisa membersamai teman-teman Geografi ‘23 UNNES. Melihat semangat, dedikasi, dan antusiasme para mahasiswa dalam menjelajahi setiap detail fenomena geosfer di Sub DAS Bompon mencerminkan rasa senang untuk perjalanan SFG 2 ini. Pesan saya, teruslah belajar dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Pengalaman di Sub-DAS Bompon bukan hanya sekadar kegiatan lapangan, tapi modal berharga untuk menjadi geograf muda yang peka terhadap lingkungan. Terima kasih atas kerja keras dan kontribusi kalian semua! Semangattt”.

![[MEDIA LITERASI] Apakah Perkebunan Sawit Bisa Menggantikan Hutan?](https://static.wixstatic.com/media/1f94b9_59d0a5b9dabd4607abdec0f565b65414~mv2.jpg/v1/fill/w_980,h_653,al_c,q_85,usm_0.66_1.00_0.01,enc_avif,quality_auto/1f94b9_59d0a5b9dabd4607abdec0f565b65414~mv2.jpg)
![[MEDIA LITERASI] Hutan Kerangas, Ekosistem di Atas Lahan Kritis](https://static.wixstatic.com/media/1f94b9_c8d54ddbf03f42a89a0321e29baa6291~mv2.png/v1/fill/w_375,h_254,al_c,q_85,enc_avif,quality_auto/1f94b9_c8d54ddbf03f42a89a0321e29baa6291~mv2.png)

Comments